Oke langsung saja....keInti-nya enggak usah perkenalan yah.......
GANJA POSITIF / NEGATIVE
YA kita pasti suda mengenal nama dan jenis tanaman yang satu ini (GANJA)...ya mungkin ada juga pernah coba sih hehehhe....Enggak papa saya ma tidak melarang hal tersebut karna saya Bukan orang tua atau keluarga dekat anda....Kita pasti mempunyai banyak pertanyaan tentang tanaman yang satu ini,bukan karena bentuk fisik dan yang lain-lain-nya tapi efek dari barang ini apabila kita sudah mencobanya.......Ya kata orang sih kayak melayang-layang,terbang di atas Bulan,hidup seperti tanpa tekanan dari siapapun,ada pula yang mengatakan Gue bebas Berijainasi......Ya jelas semua bebas Berimajinasi kali...atau ada undang-undang yang melarang tenteng Berjimajinasi tingkat tinggi hahahahaahah ...bercanda...Oke kini kita serius dikit lah,di atas tadi kan cuman pengatar HA HA HA3X
Pendahuluan
Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mengetahui dengan pasti apa sebenarnya akibat yang ditimbulkan dari penggunaan ganja atau marijuana. Mereka tidak pernah mendapatkan informasi yang benar dan jujur mengenai efek dari zat yang terkandung dalam ganja. Informasi yang mereka peroleh umumnya bersumber dari suatu penelitian ilmiah yang tidak lengkap dan hanya sepihak. Banyak informasi yang keliru yang bisa kita temukan dari hasil penelitian tersebut. Sayangnya hukum dan undang-undang juga turut ambil bagian dari kekeliruan ini, sehingga vonis yang di kenakan bagi orang yang kedapatan memiliki ganja amat sangat berat dan sangat tidak adil. Hukuman yang di terima atas kepemilikan ganja lebih berat jika di bandingkan dengan dampak dan akibat yang di timbulkan atas penggunaan ganja.
Ada banyak mitos yang keliru dan sangat menyesatkan di seputar tanaman ganja ini. Mitos yang negatif terhadap tanaman ganja telah lama menghantui alam pikiran masyarakat di Indonesia, bahkan di dunia. Oleh karena itulah maka ganja atau cannabis atau marijuana menjadi momok menakutkan yang kerap menghantui pikiran tiap orang apabila mendengarnya, terutama bagi orang tua yang memiliki anak-anak remaja yang baru tumbuh dewasa. Mereka takut jika anak, saudara, atau teman mereka terkena pengaruh untuk mengkonsumsi ganja.
Dari beberapa penelitian ilmiah di bawah ini (disertai dengan referensi) terbukti bahwa ganja bukanlah sesuatu yang berbahaya seperti apa yang di ketahui masyarakat selama ini. Berikut ini adalah beberapa bukti ilmiah yang mengungkapkan FAKTA yang sebenarnya dan sekaligus membantah angapan yang salah selama ini.
Fakta vs Mitos
Mitos: Ganja dapat mengakibatkan kecanduan yang sangat tinggi.
Menggunakan ganja dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kecanduan secara fisik dan membutuhkan ahli terapis untuk bisa berhenti dari kebiasaan menggunakan ganja.
Fakta: Kebanyakan pengguna ganja hanya menghisap ganja sesekali saja.
Penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa hanya sedikit orang-orang yang mengkonsumsi ganja, hanya sekitar 1 persen dalam sehari orang mengisap ganja dan hanya sedikit sekali yang mengalami ketergantungan. Seorang pengguna berat ganja dapat berhenti dengan mudah tanpa mengalami kesulitan. Ganja tidak menyebabkan ketergantungan fisik. Jika orang mengalami gejala putus ganja, mereka tidak akan mengalami masalah yang berarti.
Referensi:
- United States. Dept. of Health and Human Services. DASIS Report Series, Differences in Marijuana Admissions Based on Source of Referral. 2002. June 24 2005.
- Johnson, L.D., et al. “National Survey Results on Drug Use from the Monitoring the Future Study, 1975-1994, Volume II: College Students and Young Adults.” Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services, 1996.
- Kandel, D.B., et al. “Prevalence and demographic correlates of symptoms of dependence on cigarettes, alcohol, marijuana and cocaine in the U.S. population.” Drug and Alcohol Dependence 44 (1997):11-29.
- Stephens, R.S., et al. “Adult marijuana users seeking treatment.” Journal of Consulting and Clinical Psychology 61 (1993): 1100-1104.
Mitos: Ganja yang diproduksi sekarang berpotensi lebih berbahaya di banding yang dulu.
Orang dewasa yang pernah menggunakan ganja di tahun 1960-an dan 1970-an tidak menyadari bahwa remaja sekarang menggunakan ganja yang jauh lebih berbahaya daripada yganja yang dahulu mereka konsumsi.
Fakta: Ganja yang di konsumsi remaja sekarang adalah sama seperti yang pernah di gunakan remaja di tahun 1960 dan 1970 an.
Sample THC yang digunakan oleh Drug Enforcement Administration untuk menghitung adanya potensi peningkatan kadar psikoaktif tidak mewakili THC dari ganja yang secara umum tersedia saat ini. Data potensial dari tahun 1980-an sampai sekarang menunjukkan tidak adanya peningkatan rata-rata kadar THC dalam ganja. Walaupun jika dikatakan ganja berpotensi mengalami peningkatan, itupun belum tentu membuatnya menjadi lebih berbahaya. Marijuana cukup bervariasi secara substansial dalam potensi menghasilkan efek psikoaktif yang serupa.
Referensi :
- King LA, Carpentier C, Griffiths P. “Cannabis potency in Europe.” Addiction. 2005 Jul; 100(7):884-6
- Henneberger, Melinda. “Pot Surges Back, But It’s, Like, a Whole New World.” New York Times6 February 1994: E18.
- Brown, Lee. “Interview with Lee Brown,” Dallas Morning News 21 May 1995.
- Drug Enforcement Administration. U.S. Drug Threat Assessment, 1993. Washington, DC: U.S. Department of Justice, 1993.
- Kleiman, Mark A.R. Marijuana: Costs of Abuse, Costs of Control. Westport: Greenwood Press, 1989. 29.
- Bennett, William. Director of National Drug Control Policy, remarks at Conference of Mayors. 23 April 1990.
Mitos: Pelanggaran hukum atas penggunaan ganja dikenakan sangsi hukum yang ringan.
Hanya sedikit pengguna ganja yang di tahan di penjara. Perlakuan hukum yang lunak diterapkan kepada para pengedar dan pengguna ganja.
Fakta: Penangkapan pengguna ganja di Amerika Serikat jumlahnya meningkat dua kali lipat antara tahun 1991 dan 1995.
Pada tahun 1995, lebih dari satu setengah juta orang ditahan karena pelanggaran ganja. Delapan puluh enam persen dari mereka ditangkap karena memiliki ganja. Puluhan ribu orang sekarang di penjara karena mengkonsumsi ganja. Mereka sebagian besar dihukum dengan hukuman masa percobaan, denda, dan sanksi perdata, termasuk penyitaan atas kepemilikan harta benda, SIM mereka dicabut, dan pekerjaan mereka berakhir. Meskipun di ancam dengan sanksi perdata dan pidana, ganja tetap saja tersedia dan banyak digunakan.
Referensi:
- United States. Federal Bureau of Investigation. Uniform Crime Reports for the United States. 1996.Washington: U. S. Dept. of Justice, 1997.
- Gettman, Jon B. National Organization for the Reform of Marijuana Laws. Crimes of Indescretion: Marijuana arrests in the United States. Washington: NORML, 2005.
- Marijuana Policy Project. Smoke a Joint, Lose Your License. July 1995 Status Report. Washington: MPP, 1995.
- Treaster, J. “Miami Beach’s New Drug Weapon Will Fire Off Letters to the Employer” New York Times 23 February 1991: A9.
- Reed, T.G. “American Forfeiture Law: Property Owners Meet the Prosecutor.” Policy Analysis 179 (1992): 1-32.
Mitos: Ganja dapat merusak paru-paru lebih besar dibanding tembakau.
Orang yang mengisap ganja memiliki risiko tinggi terkena kanker paru-paru, bronchitis, dan emphysema.
Fakta: Orang yang merokok ganja secara moderat sedikit terkena bahaya kerusakan pada paru-paru.
Seperti halnya asap rokok, asap ganja mengandung sejumlah iritasi dan karsinogen. Tapi pengguna ganja biasanya tidak terlalu sering mengisap ganja dibandingkan perokok tembakau dan ini menyebabkan perokok ganja menghirup asap jauh lebih sedikit. Dampaknya, resiko kerusakan paru-paru bagi perokok ganja jauh lebih rendah dibanding perokok tembakau. Tidak ada laporan mengenai kangker paru-paru yang diakibatkan semata-mata karena sebab penggunaan ganja. Bahkan dalam studi besar yang disampaikan oleh American Thoracic Society tahun 2006, tidak di temukan bukti peningkatan resiko terkena kangker paru-paru bagi pengguna berat ganja. Tidak seperti perokok berat tembakau, pada perokok berat ganja tidak menunjukkan adanya penyumbatan jalan napas paru-paru. Itu menunjukkan bahwa orang yang merokok ganja tidak akan mengalami emfisema.
Referensi:
- Center on Addiction and Substance Abuse. “Legalization: Panacea or Pandora’s Box.” New York. (1995): 36.
- Turner, Carlton E. The Marijuana Controversy. Rockville: American Council for Drug Education, 1981.
- Nahas, Gabriel G. and Nicholas A. Pace. Letter. “Marijuana as Chemotherapy Aid Poses Hazards.”New York Times 4 December 1993: A20.
- Inaba, Darryl S. and William E. Cohen. Uppers, Downers, All-Arounders: Physical and Mental Effects of Psychoactive Drugs. 2nd ed. Ashland: CNS Productions, 1995. 174.
Mitos: Ganja dapat menyebabkan kerusakan mental permanen.
Di antara remaja, bahkan yang jarang menggunakan ganja sekalipun bisa mengalami kerusakan psikologis. Selama mabuk, pengguna ganja menjadi tidak rasional dan sering tidak konsisten dalam bekerja.
Fakta: Tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa ganja dapat menyebabkan kerusakan psikologis atau penyakit mental baik remaja atau orang dewasa.
Beberapa pengguna ganja mengalami tekanan psikologis setelah menggunakan ganja yang mungkin mencakup perasaan panik, gelisah, dan paranoia. Pengalaman seperti itu bisa menakutkan, tapi efeknya hanya bersifat sementara. Dengan dosis yang sangat besar, ganja dapat menyebabkan psikosis toksik sementara. Ini pun jarang terjadi, walaupun ganja di konsumsi dengan cara di makan atau di hisap seperti rokok. Ganja tidak menyebabkan perubahan mendasar dalam perilaku seseorang.
Referensi:
- Iverson, Leslie. “Long-term effects of exposure to cannabis.” Current Opinion in Pharmacology5(2005): 69-72.
- Weiser and Noy. “Interpreting the association between cannabis use and increased risk of schizophrenia.” Dialogues in Clincal Neuroscience 1(2005): 81-85.
- “Cannabis use will impair but not damage mental health.” London Telegraph. 23 January 2006.
- Andreasson, S. et al. “Cannabis and Schizophrenia: A Longitudinal study of Swedish Conscripts,”The Lancet 2 (1987): 1483-86.
- Degenhardt, Louisa, Wayne Hall and Michael Lynskey. “Testing hypotheses about the relationship between cannabis use and psychosis,” Drug and Alcohol Dependence 71 (2003): 42-4.
- Weil, A. “Adverse Reactions to Marijuana: Classification and Suggested Treatment.” New England Journal of Medicine 282 (1970): 997-1000.
Mitos: Ganja tidak dapat digunakan sebagai obat.
Sudah tersedia obat-obatan yang lebih efektif dan aman. Obat-obatan tersebut termasuk produk sintetik THC yang dipasarkan di Amerika Serikat dengan nama Marinol.
Fakta: Ganja terbukti efektif dalam mengurangi rasa mual pada pasien kemoterapi kanker, merangsang nafsu makan pada pasien AIDS, dan mengurangi tekanan intraokuler pada orang yang mengidap glaukoma.
Ada bukti yang cukup kuat mengatakan bahwa ganja dapat mengurangi kelenturan otot pada pasien dengan gangguan neurologis. Kapsul sintetis tersedia dengan resep dokter, tetapi untuk kebanyakan pasien kapsul tersebut tidak seefektif di banding dengan cara di hisap seperti rokok. THC murni juga dapat menimbulkan efek samping psikoaktif yang tidak menyenangkan dibandingkan merokok ganja. Saat ini banyak orang yang menggunakan ganja sebagai obat meskipun illegal. Akibatnya mereka berisiko tertangkap dan di penjara.
Referensi:
- Vinciguerra, Vincent; Moore, Terry and Eileen Brennan. “Inhalation marijuana as an antiemetic for cancer chemotherapy.” New York State Journal of Medicine 85 (1988): 525-27.
- McCabe M, Smith FP, Macdonald JS. “Efficacy of tetrahydrocannabinol in patients refractory to standard antiemetic therapy.” Investigational New Drugs 6.3 (1988): 243-46.
- Gorter, R., et al. “Dronabionol effects on weight in patients with HIV infection.” 1992. AIDS 6 (1992):127-38.
- Foltin, R.W., et al. “Behavioral analysis of marijuana effects on food intake in humans.”Pharmacology Biochemistry and Behavior 25 (1986): 577-82.
- Crawford, W.J. and Merritt, J.C. “Effect of tetrahydrocannabinol on Arterial and Intraocular Hypertension.” International Journal of Clinical of Pharmacology and Biopharmaceuticals 17 (1979):191-96.
- Merritt, J.C., et al. “Effects of marijuana on intraocular and blood pressure on glaucoma.”Ophthamology 87 (1980):222-28.
- Baker, D., Gareth Pryce and J. Ludovic Croxford. “Cannabinoids control spasticity and tremor in a multiple sclerosis model.” Nature 404.6773 (2000): 84-7.
- Hanigan, W.C., et al. “The Effect of Delta-9-THC on Human Spasticity.” Clinical Pharmacology and Therapeutics 39 (1986):198.
Mitos: Ganja adalah pintu gerbang menuju narkoba yang lebih berbahaya.
Meskipun ganja hanya sedikit mengakibatkan kerugian, ganja adalah zat berbahaya karena dapat menyebabkan penggunaan narkoba lain yang lebih berat seperti heroin, LSD, dan kokain.
Fakta: Ganja tidak menyebabkan orang untuk menggunakan narkoba.
Teori “gateaway to drugs” muncul sebagai penjelasan kausal mengenai hubungan statistik antara narkoba secara umum. Asosiasi yang berubah dari waktu ke waktu terhadap narkoba berbeda pada peningkatan dan penurunan prevalensi. Ganja adalah narkoba yang paling populer di seluruh dunia saat ini. Oleh karena itu, orang-orang yang sudah menggunakan narkoba seperti heroin, kokain, dan LSD, cenderung ingin menggunakan ganja juga. Kebanyakan pengguna ganja tidak pernah menggunakan obat terlarang lainnya. Memang, bagi sebagian besar orang ganja adalah terminus daripada sebagai gateaway drugs.
Referensi:
- Morral, Andrew R.; McCaffrey, Daniel F. and Susan M. Paddock. “Reassessing the marijuana gateway effect.” Addiction 97.12 (2002): 1493-504.
- United States. National Household Survey on Drug Abuse: Population Estimates 1994. Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services, 1995.
- —. National Household Survey on Drug Abuse: Main Findings 1994. Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services, 1996.
- D.B. Kandel and M. Davies, “Progression to Regular Marijuana Involvement: Phenomenology and Risk Factors for Near-Daily Use,” Vulnerability to Drug Abuse, Eds. M. Glantz and R. Pickens. Washington, D.C.: American Psychological Association, 1992: 211-253.
Mitos: Bahaya ganja telah terbukti secara ilmiah.
Pada tahun 1960-an dan 1970-an, banyak orang percaya bahwa ganja itu tidak berbahaya. Sampai hari ini yang kita tahu bahwa ganja jauh lebih berbahaya daripada alcohol dan tembakau.
Fakta: Setelah meninjau pada bukti ilmiah tahun 1972, Komisi Nasional Penyalahgunaan Ganja dan Narkoba (National Commission on Marihuana and Drug Abuse) menyimpulkan bahwa selama ini bahaya ganja terlalu dibesar-besarkan.
Sejak saat itu ribuan penelitian dilakukan terhadap manusia, hewan, dan sel-sel tumbuhan. Dari penelitian tersebut tidak ada satupun temuan yang berbeda dari apa yang telah dijelaskan oleh Komisi Nasional tahun 1972. Berdasarkan pada tiga puluh tahun penelitian ilmiah dari jurnal kedokteran Inggris “Lancet” pada tahun 1995, dapat di simpulkan bahwa: “merokok ganja, walaupun dalam jangka panjang, tidak berbahaya bagi kesehatan.”
Referensi:
- United States. National Commission on Marihuana and Drug Abuse. Marihuana: A signal of misunderstanding. Shafer Commission Report. Washington, D.C.: U.S. Government Printing Office, 1972.
- “Deglamorising Cannabis.” Editorial. The Lancet 356:11(1995): 1241.
Mitos: Ganja adalah penyebab Sindrom Amotivational.
Ganja membuat pengguna menjadi pasif, apatis, dan tidak tertarik pada masa depan. Siswa yang menggunakan ganja berprestasi rendah, dan pekerja yang menggunakan ganja menjadi tidak produktif.
Fakta: Selama dua puluh lima tahun, para peneliti telah gagal menemukan bukti bahwa ganja menyebabkan sindrom amotivational.
Orang yang mabuk terus-menerus (tanpa menyangkut-pautkan dengan narkoba), tidak akan mungkin menjadi anggota masyarakat yang produktif. Tidak ada satupun efek dari ganja yang dapat mengakibatkan seseorang hilang kendali dan ambisi. Dalam studi laboratorium, subyek yang diberi ganja dalam dosis tinggi selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tidak menunjukkan penurunan dalam motivasi kerja atau produktivitas. Di antara orang dewasa yang bekerja, pengguna ganja cenderung mendapatkan upah lebih tinggi daripada non-pengguna. Mahasiswa yang menggunakan ganja memiliki nilai sama dengan yang bukan pengguna. Di antara siswa SMA, penguna berat ganja terkait dengan kegagalan sekolah, tetapi kegagalan sekolah biasanya datang sebelum siswa tersebut menggunakan ganja.
Referensi:
- Himmelstein, J.L. The Strange Career of Marihuana: Politics and Ideology of Drug Control in America. Westport, CT: Greenwood Press, 1983.
- Mellinger, G.D. et al. “Drug Use, Academic Performance, and Career Indecision: Longitudinal Data in Search of a Model.” Longitudinal Research on Drug Use: Empirical Findings and Methodological Issues. Ed. D.B. Kandel. Washington, DC: American Psychological Association, 1978. 157-177.
- Pope, H.G. et al., “Drug Use and Life Style Among College Undergraduates in 1989: A Comparison With 1969 and 1978,” American Journal of Psychiatry 147 (1990): 998-1001.
Mitos: Kebijakan mengenai ganja di Belanda adalah sebuah kesalahan.
Hukum di Belanda yang memungkinkan orang membeli, menjual, dan menggunakan ganja secara terbuka, telah menyebabkan peningkatan penggunaan ganja, khususnya di kalangan remaja.
Fakta: Kebijakan hukum narkoba di Belanda adalah yang paling terbuka di Eropa.
Selama lebih dari dua puluh tahun, warga negara Belanda di atas usia 18 tahun telah diizinkan membeli dan menggunakan ganja dan hasish di kedai kopi yang diatur pemerintah. Kebijakan ini tidak berdampak pada peningkatan pengguna ganja. Untuk kelompok usia tertentu, tingkat penggunaan ganja di Belanda adalah sama dengan di Amerika Serikat. Namun, untuk remaja muda, tingkat penggunaan ganja lebih rendah di Belanda daripada di Amerika Serikat. Masyarakat Belanda sangat setuju dengan kebijakan ganja saat ini yang bertujuan untuk menormalkan dramatisasi atas penggunaan ganja. Pemerintah Belanda kadang-kadang merevisi kebijakan yang ada, tapi tetap berkomitmen untuk dekriminalisasi.
Referensi:
- Fromberg, E. “The Case of the Netherlands: Contradictions and Values in Questioning Prohibition.”1994 International Report on Drugs, Brussels: International Antiprohibitionist League, 1994. 113-124.
- Sandwijk, J.P., et al. Licit and Illicit Drug Use in Amsterdam II. Amsterdam: University of Amsterdam, 1995.
- Gunning, K.F. Crime Rate and Drug Use in Holland. Rotterdam: Dutch National Committee on Drug Prevention. 1993.
Mitos: Ganja membunuh sel otak.
Apabila digunakan secara terus menerus, ganja dapat mengubah struktur dan fungsi otak secara permanen, menyebabkan kehilangan memori, gangguan kognitif, kerusakan kepribadian, dan menyebabkan berkurangnya produktivitas.
Fakta: Tidak pernah ada medical test yang digunakan untuk mendeteksi kerusakan otak pada manusia akibat mengkonsumsi ganja, bahkan dari penggunaan jangka panjang dengan dosis tinggi sekalipun.
Sebuah studi awalnya melaporkan adanya kerusakan pada otak kera setelah enam bulan di cekoki asap ganja berkonsentrasi tinggi. Baru-baru ini, dengan didasari penelitian yang lebih hati-hati, para ilmuan tidak menemukan bukti adanya kelainan otak pada monyet yang dipaksa untuk menghirup asap ganja setara 4-5 batang rokok ganja setiap hari selama setahun. Klaim bahwa ganja membunuh sel-sel otak adalah berdasarkan laporan spekulatif sejak seperempat abad yang lalu dan belum pernah didukung oleh studi ilmiah.
Referensi:
- Heath, R.G., et al. “Cannabis Sativa: Effects on Brain Function and Ultrastructure in Rhesus Monkeys.” Biological Psychiatry 15 (1980): 657-690.
- Ali, S.F., et al. “Chronic Marijuana Smoke Exposure in the Rhesus Monkey IV: Neurochemical Effects and Comparison to Acute and Chronic Exposure to Delta-9-Tetrahydrocannabinol (THC) in Rats.” Pharmacology Biochemistry and Behavior 40 (1991): 677-82.
Mitos: Ganja mengganggu memori dan Kognisi.
Di bawah pengaruh ganja, orang tidak mampu berpikir rasional dan cerdas. Pengguna ganja kronis akan mengalami penurunan mental secara permanen.
Fakta: Ganja mengakibatkan perubahan sementara dalam berfikir, persepsi, dan pengolahan informasi.
Proses kognitif yang paling jelas dipengaruhi oleh ganja adalah memori jangka pendek. Dalam studi laboratorium, subyek di bawah pengaruh ganja tidak mengalami kesulitan dalam mengingat hal-hal yang pernah mereka pelajari sebelumnya. Namun mereka menampilkan berkurangnya kapasitas untuk belajar dan mengingat informasi baru. Pengaruh berkurangnya daya ingat ini hanya berlangsung sementara saja. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa penggunaan ganja untuk jangka panjang bisa mengganggu memori atau fungsi kognitif lainnya secara permanen.
Referensi:
- Wetzel, C.D. et al., “Remote Memory During Marijuana Intoxication,” Psychopharmacology 76 (1982): 278-81.
- Deadwyler, S.A. et al., “The Effects of Delta-9-THC on Mechanisms of Learning and Memory.”Neurobiology of Drug Abuse: Learning and Memory. Ed. L. Erinoff. Rockville, MD: National Institute on Drug Abuse 1990. 79-83.
- Block, R.I. et al., “Acute Effects of Marijuana on Cognition: Relationships to Chronic Effects and Smoking Techniques.” Pharmacology Biochemistry and Behavior 43 (1992): 907-917.
Mitos: Ganja penyebab kriminalitas.
Pengguna ganja cenderung melakukan kekerasan lebih dari non pengguna. Di bawah pengaruh ganja, orang menjadi tidak rasional, agresif, dan kasar.
Fakta: Ganja tidak menyebabkan tindak kejahatan.
Kalangan ilmuwan dan pemerintah meneliti hubungan antara penggunaan ganja dan kejahatan dan mereka telah mencapai kesimpulan yang sama bahwa: Ganja tidak menyebabkan kejahatan. Sebagian besar pengguna ganja tidak melakukan kejahatan lain selain kejahatan karena memiliki ganja. Pengguna ganja yang melakukan kejahatan bukan disebabkan oleh pengaruh ganja, melainkan karena faktor lain di luar ganja. Studi pada manusia dan hewan menunjukkan bahwa ganja dapat merngurangi peningkatan agresi pada manusia.
Referensi:
- Fagan, J., et al. “Delinquency and Substance Use Among Inner-City Students.” Journal of Drug Issues 20 (1990): 351-402.
- Johnson, L.D., et al. “Drugs and Delinquency: A Search for Causal Connections.” Ed. D.B. Kandel.Longitudinal Research on Drug Use: Empirical Findings and Methodological Issues. New York: John Wiley & Sons, 1978. 137-156.
- Goode, E. “Marijuana and Crime.” Marihuana: A Signal of Misunderstanding, Appendix I. National Commission on Marihuana and Drug Abuse Washington, DC: U.S. Government Printing Office, 1972. 447-453.
- Abram, K.M. and L.A. Teplin. “Drug Disorder, Mental Illness, and Violence.” Drugs and Violence: Causes, Correlates, and Consequences. Rockville: National Institute on Drug Abuse, 1990. 222-238.
- Cherek, D.R., et al. “Acute Effects of Marijuana Smoking on Aggressive, Escape and Point-Maintained Responding of Male Drug Users.” Psychopharmacology 111 (1993): 163-168.
- Tinklenberg, J.R., et al. “Drugs and criminal assaults by adolescents: A Replication Study.” Journal of Psychoactive Drugs 13 (1981): 277-287.
Mitos: Ganja mengganggu hormon seks pria dan wanita.
Ganja dapat menyebabkan kemandulan pada pria dan wanita. Ganja memperlambat perkembangan seksual pada remaja. Ganja menghasilkan karakteristik feminin pada pria dan karakteristik maskulin pada perempuan.
Fakta: Tidak ada bukti bahwa ganja menyebabkan kemandulan pada pria atau wanita.
Dalam sebuah penelitian yang menggunakan hewan percaobaan, dosis tinggi THC mengurangi produksi beberapa hormon seks dan dapat mengganggu reproduksi. Namun, lebih banyak studi tentang manusia yang membuktikan bahwa ganja tidak memiliki pengaruh hormon seks. Studi tersebut menunjukkan dampak yang sederhana, sementara, dan tidak ada konsekuensi yang jelas terhadap proses reproduksi. Tidak pernah ada bukti ilmiah yang mengatakan bahwa ganja dapat memperlambat perkembangan seksual remaja dan mengakibatkan efek feminisasi pada laki-laki, atau efek maskulinisasi pada perempuan.
Referensi:
- Parents Resource Institute for Drug Education. Marijuana and Cocaine. Atlanta, GA: PRIDE, 1990.
- Center for Substance Abuse Prevention. Female Adolescents and Marijuana Use; Fact Sheet for Adults. Rockville: U.S. Department of Health and Human Services, 1995.
- Center for Substance Abuse Prevention. Marijuana: Tips for Teens. Rockville: U.S. Department of Health and Human Services, 1995.
- Swan, Neil. “A Look at Marijuana’s Harmful Effects.” NIDA Notes. 9:2 (1994): 16.
- Clinton, President Bill. Speech at Framingham High School. Framingham, Massachusetts. 20 Oct. 1994.
Mitos: Mengkonsumsi ganja pada saat hamil dapat merusak Janin.
Kerusakan janin yang terjadi bisa mengakibatkan cacat pada bayi saat lahir. Di saat masa pertumbuhan, anak tersebut akan mengalami masalah. Sang anak juga akan terancam masalah kesehatan.
Fakta: Studi pada bayi yang baru lahir dan anak-anak tidak menunjukkan adanya kekurangan fisik yang konsisten, perkembangan, atau defisit kognitif yang terkait dengan penggunaan ganja pada waktu kehamilan. Penggunaan ganja di saat kehamilan tidak berdampak pada ukuran berat bayi saat di lahirkan, usia kehamilan, perkembangan saraf, atau terjadinya kelainan fisik. Salinan test pada ratusan anak yang lebih tua hanya mengungkapkan perbedaan kecil antara keturunan pengguna ganja dan non pengguna. Dua studi lain yang belum terkonfirmasi adalah identifikasi pemakaian ganja selama masa kehamilan terkait dengan penyakit kangker pada anak. Mengingat tidak adanya bukti-bukti lain yang mndukung, sangat tidak mungkin bahwa ganja bisa menyebabkan kanker pada anak-anak.
Referensi:
- Mann, Peggy. The Sad Story of Mary Wanna. NY: Woodmere Press, 1988. 30.
- Fried, Peter. Quoted in “Marijuana: Its Use and Effects.” Prevention Pipeline. 8:5 (1995): 4.
- American Council for Drug Education. Drugs and Pregnancy. Rockville: Phoenix House, 1994.
- Swan, Neil. “A Look at Marijuana’s Harmful Effects.” NIDA Notes. 9. 2 (1994): 16.
- Parents Resource Institute for Drug Education. Marijuana – Effects on the Female. Atlanta, GA: PRIDE, 1996.
Mitos: Ganja dapat merusak sistem kekebalan tubuh.
Mengkonsumsi ganja dapat meningkatkan risiko infeksi, termasuk HIV. Pasien AIDS sangat rentan terhadap efek immunopathic ganja karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah hilang.
Fakta: Tidak ada bukti bahwa pengguna ganja lebih rentan terhadap infeksi di banding non pengguna.
Juga tidak ada bukti bahwa ganja dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap penyakit seksual yang menular. Studi awal yang menunjukkan adanya penurunan fungsi kekebalan tubuh dalam sel yang diambil dari pengguna ganja telah disangkal. Hewan yang terkena virus diberi THC dalam dosis yang besar memiliki resiko infeksi yang lebih tinggi. Studi semacam itu memiliki relevansi sedikit pada manusia. Bahkan orang dengan gangguan kekebalan tubuh seperti AIDS relative aman menggunakan ganja. Namun, penelitian baru-baru ini menemukan hubungan antara merokok tembakau dan infeksi paru-paru pada pasien AIDS jauh lebih memungkinan bahaya merokok ganja bagi orang yang mengalami masalah kekebalan tubuh.
Referensi:
- Parents Resource Institute for Drug Education. Marijuana and Cocaine. Atlanta: PRIDE, 1990.
- Preate, Ernest D. Blowing Away the Marijuana Smokescreen. Scranton: Pennsylvania Office of Attorney General, [no date]: 2.
- Spence, W.R. Marijuana: Its Effects and Hazards. Waco: Health Edco, [no date].
- Voth, Eric A. The International Drug Strategy Institute Position Paper on the Medical Applications of Marijuana. Omaha: Drug Watch International, [no date].
- Drug Watch International. By Any Modern Medical Standard, Marijuana is No Medicine. Omaha: Drug Watch International, [no date].
Mitos: Ganja penyebab utama kecelakaan lalu-lintas.
Seperti alkohol, ganja merusak fungsi psikomotor dan menurunkan kemampuan mengemudi. Apabila penggunaan ganja meningkat, peningkatan kecelakaan fatal lalu lintas tak terelakkan.
Fakta: Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa marijuana menyumbang banyak pada kecelakaan lalu lintas dan kematian.
Pada dosis tertentu ganja mempengaruhi persepsi dan kinerja psikomotor, yaitu perubahan yang dapat mengganggu kemampuan mengemudi. Akan tetapi pada studi mengenai kemampuan mengemudi, ganja hanya sedikit mempengaruhi kempuan seseorang dalam mengemudikan kendaraan. Pada pengguna ganja tidak ada penurunan konsistensi saat menyetir mobil seperti pengguna alcohol yang cenderung beresiko kecelakaan. Ganja cenderung membuat si pengemudi lebih berhati-hati. Survei menunjukkan bahwa ketika THC terdeteksi dalam darah, alkohol hampir selalu terdeteksi juga. Untuk beberapa individu, ganja mungkin memainkan peran dalam kualitas mengemudi, namun secara keseluruhan tingkat kecelakaan jalan raya tampaknya tidak akan terpengaruh oleh penggunaan ganja secara luas di masyarakat.
Referensi:
- Center on Addiction and Substance Abuse. “Legalization: Panacea or Pandora’s Box”. New York. (1995):36.
- Swan, Neil. “A Look at Marijuana’s Harmful Effects.” NIDA Notes. 9.2 (1994): 14.
- Moskowitz, Herbert and Robert Petersen. Marijuana and Driving: A Review. Rockville: American Council for Drug Education, 1982. 7.
- Mann, Peggy. Marijuana Alert. New York: McGraw-Hill, 1985. 265.
Mitos: Ganja terkait pada peningkatan pasien darurat rumah sakit.
Ini adalah bukti bahwa ganja jauh lebih berbahaya dari apa yang di percaya orang selama ini.
Fakta: Marijuana tidak menyebabkan kematian overdosis.
Jumlah orang di ruang gawat darurat rumah sakit yang mengatakan diri mereka telah menggunakan ganja meningkat. Atas dasar inilah catatan kunjungan di rumah sakit digunakan sebagai bukti bahwa ganja ada kaitannya walaupun tidak ada hubungannya dengan kondisi medis sebelum datang ke rumah sakit. Lebih banyak remaja yang menggunakan ganja daripada obat-obatan seperti heroin dan kokain. Akibatnya, ketika remaja mengunjungi kamar rumah sakit darurat, mereka melaporkan penggunaan ganja jauh lebih sering daripada mereka melaporkan heroin dan kokain. Pada sebagian besar kasus-kasus ketika ganja disebutkan, obat lain juga disebutkan.
Referensi:
- Brown, Lee. Quoted in U.S. Department of Health and Human Services Press Release, National Drug Survey Results Released with New Youth Public Education Materials. Rockville: 12 September 1995.
- Shalala, Donna. “Say ‘No’ to Legalization of Marijuana.” Wall Street Journal 18 August 1995: A10.
- Shuster, Charles. Quoted in Drug Enforcement Administration. Drug Legalization: Myths and Misconceptions. Washington, DC: U.S. Department of Justice, 1994. 5.
Mitos: Penggunaan ganja dapatkah dicegah.
Pendidikan tentang bahaya narkoba dapat mengurangi penggunaan ganja pada tahun 1980. Tetapi setelah pendidikan tentang bahaya narkoba tersebut dikurangi, jumlah pengguna ganja jadi meningkat. Dengan memperluas dan mengintensifkan pesan anti-ganja, kita bisa menghentikan remaja yang ingin mencoba.
Fakta: Tidak ada bukti bahwa pesan anti narkoba dapat mengurangi minat anak muda untuk mencoba narkoba.
Kampanye anti-narkoba di sekolah-sekolah dan melalui media massa justru malah membuat narkoba jadi lebih menarik. Pengguna ganja di antara kalangan remaja menurun sepanjang tahun 1980, dan mulai meningkat lagi pada tahun 1990-an. Peningkatan ini terjadi di saat pemerintah gencar melakukan kampanye anti narkoba/ganja, inilah kampanye anti-ganja terbesar dalam sejarah Amerika. Di sejumlah negara lain, program pendidikan anti narkoba didasarkan pada “harm reduction”, yang bertujuan untuk mengurangi akibat buruk narkoba di kalangan remaja yang mulai mencoba-coba narkoba.
Referensi:
- Center on Addiction and Substance Abuse. “National Survey of American Attitudes on Substance Abuse.” New York (1995):28.
- Brown, Lee. Director of National Drug Control Policy, remarks at National Conference on Marijuana Use: Prevention, Treatment, and Research. Sponsored by the National Institute on Drug Abuse, Arlington, VA (July 1995).
- Califano, Joseph A. “Don’t Stop This War.” Washington Post 26 May 1996: C7.
- Shalala, Donna. “Marijuana: A Recurring Problem.” Prevention Pipeline 8.5 (1995): 2.
- Burke, James. [Partnership for a Drug-Free America]. Interview. MS-NBC with Tom Brokaw. MS-NBC, 3 September 1996.
- Falco, Mathea. The Making of a Drug-Free America: Programs That Work. New York: Times Books, 1992. 202.(IG)
Ada banyak perspektif tentang Ganja,dari berbagi kalangan yang telah telusuri,ada berbagai asumsi yang menarik dan cukup bagus untuk jadi Bahan Referensi baru...sebagi bahan diskusi....
Gue pernah melakukan Interview, untuk klarivikasi kepada teman saya yang menggunkan Ganja untuk.....Ia mengatakan Bahwa tidak semua yang orang katakan tentang dampak negatif dari ganja ini benar karena apa,ada kalangan Anak muda yang menggunkan ganja ini sebagai pemicu otak untuk berfikir,(Mengimajinasi). Ya jelas teman saya inikan seorang seorang yang hidup di dunia Desain ya,mereka Harus pandai berimajinasi,di dalam menciptakan Karya yyang kreatif,menarik,dan Bagus.....
Ia juga mengatakan bahwa Ganja sebernar ini membantu otak saya untuk berpiki ( mengimajinasi ) di luar kemampuan saya...ganja membarikan saya Inspirasi tiada Henti dan Tiada Batas Bahkan teman saya yang satu ini...mengomsumsi Ganja di luar dari batas Normal orang biasa yang mengomsumsi Ganja (Ia adalah Pemakai Tinggkat Tinggi ( yang biasa di kenal dengan Istilah Gitting)).
Dan pasti dari kalanga teman-teman jarang ada yang mendengar Ganja di Halalkan didalam Islam...Berikut ini adalah Bahan kajian kita bersama dan pemecahanx menurut pandangan teman-teman sekalian....
Ganja (hasyisy) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya,tetrahidrokanabinol yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok mariyuana
Daun ganja bila diolah sedemikian rupa menjadi lintingan rokok, dibakar lalu asapnya dihirup, akan menimbulkan iskar (mabuk). Dengan demikian jelas termasuk khamr.[1]
Khamr dalam bahasa Arab berasal dari akar kata “khamra” ( خمر ) yang bermakna sesuatu yang menutupi. Disebutkan ( ما خمر العقل ) yaitu sesuatu yang menutupi akal. Sedangkan jumhur ulama memberikan definisi khamr yaitu segala sesuatu yang memabukkan, baik sedikit maupun banyak.
Dalil-dalil
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al A’raf 157, “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”
Dalam Surat Al Baqarah ayat 219, “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah,”Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.”
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi,berkorban untuk berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan kejitermasuk perbuatan syetan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syetan itu bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu dengan khamr dan judi serta menghalangi kamu darimengingat Allah dan shalat. Maka berhentilah kamu dari pekerjaan itu.”(QS. Al-Maidah :90- 91)
Dari Ibni Umar Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Segala yang memabukkan itu adalah khamr dan semua jenis khamr itu haram. Siapa yang minum khamr di dunia dan mati terbiasanya meminumnya tanpa bertaubat, maka dia tidak akan meminumnya di akhirat ” (HR. Muslim dan Ad Daruquthuni)
Dari Ummu Salamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Aalaihi wa Sallam melarang dari segala yang memabukkan dan mufattir (yang membuat lemah)” (HR. Abu Daud no. 3686 dan Ahmad 6: 309, dha’if)
Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘Aalaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia di neraka Jahannam dalam keadaan menjatuhkan diri di (gunung dalam) neraka itu, kekal selama lamanya. Barangsiapa yang sengaja menenggak racun hingga mati maka racun itu tetap ditangannya dan dia menenggaknya di dalam neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu akan ada ditangannya dan dia tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam dalam keadaan kekal selama lamanya.” (HR Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109)
Dari Ibnu ‘Abbas, Rasul Shallallahu ‘Aalaihi wa Sallam bersabda, “Tidak boleh memberikan dampak bahaya, tidak boleh memberikan dampak bahaya” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3: 77, Al Baihaqi 6: 69, Al Hakim 2: 66, shahih)
Bukan kah di dalam Firma Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al A’raf 157, “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.”
ya Jelas sekali Allah menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang Buruk....tapi dari kalimat ini banyak yang salah mengasumsikan-nya atau menafsirkan-nya ....karena dari kata kalimat Menghalalkan yang baik dan mengharamkan yang Buruk...
Tapi ya semua tergantung pandangan teman-teman semua...saya mengutip sedikit kata-kata dari Peter Dantovsky sebagai pengguna Ganja Medis sekaligus penulis Buku Kriminalisasi Ganja memberikan argumennya terhadap kebijakan Narkotika yang kata BNN Humanis. Sebagai orang yang pernah 2 kali ditahan karena menggunakan ganja untuk mengatasi nyeri neuropatik kronis, beliau menyangkal prinsip Humanis UU Narkotika. Secara resmi, atas ijin Menkes, belum pernah dilakukan penelitian tentang ganja di Indonesia. BNN juga mengakui hal tersebut.
“Lantas dari mana para tuan besar dan tuan kecil itu dapat mengetahui bahayanya jika memang belum pernah dilakukan penelitian tentang ganja?Bagaimana bisa humanis sebuah UU yang tidak mengindahkan ilmu pengetahuan melainkan mendasarkan diri pada asumsi semata?Tuntutan kami, warga negara penyandang sakit dan cacat yang membutuhkan ganja untuk kesehatan adalah, segera lakukan penelitian tentang manfaat medis ganja bagi kesehatan; Kalau perlu dengan menjadikan kami sebagai obyek penelitian.Jangan penjarakan orang sakit dan cacat yang membutuhkan perawatan medik;Jangan berlaku sewenang-wenang terhadap sesama umatnya Tuhan.Dan jangan berlaku sombong di hadapan Tuhan dengan mengharamkan segala sesuatu yang tidak haram'” ujar beliau.
Saya sangat terpukau dengan kata-kat Beliuw ...bagaiman mungkin kita mengatakan salah dan benar mengetahuai suatu barang tanpa ada-nya suatu penelitian dan percobaan yang Akurat terhadap objek itu.....
Oke gan mungkin itu...sedikit Untaian Kata-kata yang tak bermakna dan terkadang Kata-kata Itu Bermakna Banyak Hal....
ITU KAMU,SALAM RASTA
LINGKAR GANJA NUSANTARA....................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar